Rabu, 26 September 2018

Jessica (1)





Nama bisa jadi apa saja. 
Nama kadang bisa jadi do'a, kadang bisa jadi kutukan. Dulu, saya sempat tidak terima dengan nama yang diberikan orangtua pada saya. Saya memang belum tau artinya, tapi bagi saya, nama yang telah melekat pada diri saya semenjak lahir ini terdengar kurang modern. Ndeso. Apalagi bunyi Saadah atau Sa'adah, yang sekilas terdengar seperti 'sak-adah', atau satu wadah - jika diartikan dalam bahasa Indonesia. Saya ingin nama yang lebih ke-kota-kotaan, sehingga saya mempunyai banyak nama alias. Yaseena Ilmy, Ananta Sisty, Citra Sasmita, Nurul Khidmah Syahamah, itu semua nama-nama alias saya.


Nama bisa jadi do'a. Sebagian orangtua membubuhkan stempel berisi harapan-harapan mereka pada diksi-diksi nama. Saya baru tau setelahnya, bahwa nama saya ini sangat indah maknanya. Saya mencoba menerjemahkan nama saya dengan bantuan google translate, dan artinya kurang lebih adalah ilmu kebahagiaan. Ya! My parents do want me to be happy...........

And I am really grateful to know that. Thankyou, my parents.

However, nama adalah identitas. Mencirikan seseorang. Bahkan kadang-kadang nama yang dipunyai seseorang akan sesuai dengan kepribadiannya. Kim Yong Sun, contohnya. Arti dari namanya adalah "fresh faced" dan nama panggungnya Solar mempunyai arti "matahari" dan/atau dari kata sol-la, yang sesuai dengan kemampuannya menyanyikan lagu bernada tinggi. Bukan berarti dia punya riwayat jualan bahan bakar, tentunya. Well... Bagaimana dengan nama saya?

Lihat saja lagi, terdapat kata 'bahagia' dalam nama saya. Tapi...
Am I a happy person? Am I really happy?

When it comes to 'happy', or 'happiness', mungkin agak susah menjelaskan. (Menjelaskan) apakah saya orang yang bahagia, dan apakah saya benar-benar bahagia?
Well, bahagia itu relatif (bagi saya). Tapi... kenapa (harus) tidak?
Saya senang punya nama ini. Saya bersyukur dan berterimakasih. Juga untuk keseluruhan hidup saya.
Meskipun terkadang saya bingung karena banyaknya nama alias saya - yang sepertinya mempunyai ciri masing-masing. Ada Yaseena Ilmy yang suka menulis dan 'mencintai' keluarganya, Ananta Sisty yang periang dan Citra Sasmita yang pendiam - si kembar yang hidupnya serba sempurna, ada pula si religius Nurul Khidmah Syahamah. Keterpecahbelahan mereka membuat saya seringkali kesulitan memahami apapun.
Katanya, saya krisis identitas...
Ah, saya lupa menyebutkan satu nama. Jessica...

Kamis, 12 April 2018

Nasi Pocong

Ini kejadian misterius yang terjadi pada zaman dahulu kala ketika saya masih mahasiswa baru, tepatnya di tahun pertama tinggal di asrama. Di asrama universitas saya, ada semacam kegiatan orientasi asrama untuk mahasiswa yang baru tinggal di asrama, biasanya disebut OWB (Orientasi Warga Baru). Isi kegiatannya ya seperti ospek pada umumnya, kami sebagai warga baru diwajibkan untuk membuat banyak hal, membuat kelompok, membuat ini-itu, mencari benda ini dan itu, dan sebagainya. Malam itu, saya mengerjakan mading secara berkelompok mulai habis maghrib sampai agak malam di ruang belajar asrama (yang sebenarnya cuma space agak luas aja sih di dekat tangga). Jam 9 malam bagi saya sudah malam waktu itu, karena belum merasakan begadang mengerjakan tugas atau kegiatan organisasi. Kami yang masih polos waktu itu, mengerjakan tugas itu dengan rajin sekali. Sialnya, saya tidak sempat membeli makanan sepulang kuliah, kantin asrama sedang tutup dari pagi, sementara mading masih belum selesai dan saya terlalu sungkan untuk izin keluar untuk membeli makanan. Dengan putus asa, saya membuat status BBM, menjelaskan judul sekaligus isi dari cerita yang sedang saya alami waktu itu, "Starving".

Singkat cerita, ketika saya kembali kamar, dua teman sekamar saya sudah tidur. Mood yang sedang kurang oke mencegah kantuk saya datang, padahal kondisi saya waktu itu itu sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Salah satu teman saya tiba-tiba 'ngelilir' (terbangun) dan bicara dengan artikulasi yang tidak jelas. Dia menunjuk sebuah bungkusan kertas minyak di meja belajar. Terlihat ada ekor ikan menyembul di salah satu sisi bungkusannya. Sepertinya lele. Sepertinya enak. Dan ada pisangnya.

Nasi bungkus itu menjadi misteri di kamar kami. Saya dan teman-teman tidak ada yang mengakuinya. Kami tidak merasa memiliki nasi itu. Salah satu teman saya bilang, ada seseorang yang mengetuk pintu dan meletakkan nasi itu di meja. Walaupun sebenarnya kondisi dan situasi saya-lah yang paling mungkin untuk 'mendapatkan' nasi lele itu, terlebih lagi karena saya memang memasang status tentang kelaparan saya. Bisa sih masuk akal, tapi ganjil. Waktu itu kontak BBM saya hanya segelintir orang saja, dan posisi mereka jauh dari saya. Dengan kata lain, tidak mungkin mereka se-peduli itu. Nasi itu benar-benar menjadi misteri yang tidak terpecahkan.

Suatu hari, saya bercerita kepada seseorang tentang itu. Dia bilang, mungkin nasi dari pocong.

Siapapun pocong itu, terimakasih.