Kamis, 26 Agustus 2021

Suren Aja, Lah!

 

Beberapa tahun lalu saya pernah punya urusan perizinan tidak mukim di asrama untuk keperluan KPL/PPL. Kebetulan waktu itu lokasinya dekat tempat asal, jadi saya putuskan untuk PP saja.
Singkat cerita, karena masalah waktu dan lain hal, saya musti buru-buru dapat surat izin berstempel, lengkap dengan tanda tangan kepala kurikulum asrama, Pak Ahmad namanya. Waktu itu teman-teman banyak yang cerita tentang susahnya bertemu dengan beliau karena begini begitu macam-macam.
Hari itu, tekad saya bulat. Oke, saya harus dapat ini hari ini. Mau harus nunggu di depan rumah beliau atau camping sekalian, saya akan lakukan. Karena kalau sampai saya tidak dapat surat izin, balik ke asrama saya akan dapat sanksi pasal berlapis. Akhirnya setelah menghadapi pengurus asrama yang kebetulan saya kurang sefrekuensi dengan beliau, kemudian cari alamat rumah Pak Ahmad, dan lain-lain sampai kemudian dapatlah alamat beliau.
Fyi saya orangnya tidak terlalu pintar menangkap informasi tentang arah. Relatif sulit memahami peta. Makanya kenapa kalau saya main game mobile legend suka dicaci buta map sama rekan tim. Tapi waktu itu saya bertekad bulat, dan saya hanya andalkan insting. Jadi saya waktu itu berangkat ke rumah pak Ahmad naik motor, hanya nyambat begini saja: "Ya Allah saya ini belajar taat aturan, saya ingin dapat izin halal dari pak Ahmad." Saya kendarai motor cuma bondo itu saja. Belok kemana, saya cuma mengikuti apa yang saya yakini, karena kebetulan pengetahuan saya 0 terkait wilayah alamat rumah Pak Ahmad. Benar-benar tidak pernah merambah daerah tsb.
Singkatnya, sampai di satu titik, motor tiba-tiba saya hentikan. Waktu itu keyakinan saya sudah "Ah, suren (nyerah) aja lah, gak ketemu rumahnya." Lah kok ndilalah, qodarulloh pas saya menepi dan berhenti, dibelakang saya ada motor yang juga menepi dan berhenti. Waktu saya lihat, lho ternyata kok Pak Ahmad. Saya terheran-heran. Apa saya salah lihat... Kok ajaib sekali pikir saya. Dengan tenangnya beliau bertanya, "Mau kemana, mbak?" Saya jawab, "Ke ndalem njenengan, pak. Bade nyuwun izin." (Ke rumah anda, pak. Mau minta izin). Beliau cuma manggut-manggut seraya berucap singkat saja. "Monggo."
Beliau kemudian men-starter motornya, dan saya ikuti beliau. Saya terheran lagi, saat mengetahui bahwa tempat saya berhenti tadi pas di seberang gang rumah beliau.
Ini kalau bukan Allah yang suruh saya menepi, tidak mungkin bisa se-ajaib ini.
Akhirnya, saya berhasil mendapatkan 'izin yang halal'.
Baru-baru ini, ingatan itu muncul kembali.
Oh iya ya, kodrat seorang hamba adalah angkat tangan. Surrender. Karena secara fisik, yang terlihat, seperti menyerah, tapi siapa tau yang terjadi dibalik layar.
Dalam suatu verse QS 33:3 ; 3:159 ..... And that was it, aku mulai mengetahui bahwa kekuatan seorang hamba, adalah ketika secara total berserah.


Rabu, 26 September 2018

Jessica (1)





Nama bisa jadi apa saja. 
Nama kadang bisa jadi do'a, kadang bisa jadi kutukan. Dulu, saya sempat tidak terima dengan nama yang diberikan orangtua pada saya. Saya memang belum tau artinya, tapi bagi saya, nama yang telah melekat pada diri saya semenjak lahir ini terdengar kurang modern. Ndeso. Apalagi bunyi Saadah atau Sa'adah, yang sekilas terdengar seperti 'sak-adah', atau satu wadah - jika diartikan dalam bahasa Indonesia. Saya ingin nama yang lebih ke-kota-kotaan, sehingga saya mempunyai banyak nama alias. Yaseena Ilmy, Ananta Sisty, Citra Sasmita, Nurul Khidmah Syahamah, itu semua nama-nama alias saya.


Nama bisa jadi do'a. Sebagian orangtua membubuhkan stempel berisi harapan-harapan mereka pada diksi-diksi nama. Saya baru tau setelahnya, bahwa nama saya ini sangat indah maknanya. Saya mencoba menerjemahkan nama saya dengan bantuan google translate, dan artinya kurang lebih adalah ilmu kebahagiaan. Ya! My parents do want me to be happy...........

And I am really grateful to know that. Thankyou, my parents.

However, nama adalah identitas. Mencirikan seseorang. Bahkan kadang-kadang nama yang dipunyai seseorang akan sesuai dengan kepribadiannya. Kim Yong Sun, contohnya. Arti dari namanya adalah "fresh faced" dan nama panggungnya Solar mempunyai arti "matahari" dan/atau dari kata sol-la, yang sesuai dengan kemampuannya menyanyikan lagu bernada tinggi. Bukan berarti dia punya riwayat jualan bahan bakar, tentunya. Well... Bagaimana dengan nama saya?

Lihat saja lagi, terdapat kata 'bahagia' dalam nama saya. Tapi...
Am I a happy person? Am I really happy?

When it comes to 'happy', or 'happiness', mungkin agak susah menjelaskan. (Menjelaskan) apakah saya orang yang bahagia, dan apakah saya benar-benar bahagia?
Well, bahagia itu relatif (bagi saya). Tapi... kenapa (harus) tidak?
Saya senang punya nama ini. Saya bersyukur dan berterimakasih. Juga untuk keseluruhan hidup saya.
Meskipun terkadang saya bingung karena banyaknya nama alias saya - yang sepertinya mempunyai ciri masing-masing. Ada Yaseena Ilmy yang suka menulis dan 'mencintai' keluarganya, Ananta Sisty yang periang dan Citra Sasmita yang pendiam - si kembar yang hidupnya serba sempurna, ada pula si religius Nurul Khidmah Syahamah. Keterpecahbelahan mereka membuat saya seringkali kesulitan memahami apapun.
Katanya, saya krisis identitas...
Ah, saya lupa menyebutkan satu nama. Jessica...

Kamis, 12 April 2018

Nasi Pocong

Ini kejadian misterius yang terjadi pada zaman dahulu kala ketika saya masih mahasiswa baru, tepatnya di tahun pertama tinggal di asrama. Di asrama universitas saya, ada semacam kegiatan orientasi asrama untuk mahasiswa yang baru tinggal di asrama, biasanya disebut OWB (Orientasi Warga Baru). Isi kegiatannya ya seperti ospek pada umumnya, kami sebagai warga baru diwajibkan untuk membuat banyak hal, membuat kelompok, membuat ini-itu, mencari benda ini dan itu, dan sebagainya. Malam itu, saya mengerjakan mading secara berkelompok mulai habis maghrib sampai agak malam di ruang belajar asrama (yang sebenarnya cuma space agak luas aja sih di dekat tangga). Jam 9 malam bagi saya sudah malam waktu itu, karena belum merasakan begadang mengerjakan tugas atau kegiatan organisasi. Kami yang masih polos waktu itu, mengerjakan tugas itu dengan rajin sekali. Sialnya, saya tidak sempat membeli makanan sepulang kuliah, kantin asrama sedang tutup dari pagi, sementara mading masih belum selesai dan saya terlalu sungkan untuk izin keluar untuk membeli makanan. Dengan putus asa, saya membuat status BBM, menjelaskan judul sekaligus isi dari cerita yang sedang saya alami waktu itu, "Starving".

Singkat cerita, ketika saya kembali kamar, dua teman sekamar saya sudah tidur. Mood yang sedang kurang oke mencegah kantuk saya datang, padahal kondisi saya waktu itu itu sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Salah satu teman saya tiba-tiba 'ngelilir' (terbangun) dan bicara dengan artikulasi yang tidak jelas. Dia menunjuk sebuah bungkusan kertas minyak di meja belajar. Terlihat ada ekor ikan menyembul di salah satu sisi bungkusannya. Sepertinya lele. Sepertinya enak. Dan ada pisangnya.

Nasi bungkus itu menjadi misteri di kamar kami. Saya dan teman-teman tidak ada yang mengakuinya. Kami tidak merasa memiliki nasi itu. Salah satu teman saya bilang, ada seseorang yang mengetuk pintu dan meletakkan nasi itu di meja. Walaupun sebenarnya kondisi dan situasi saya-lah yang paling mungkin untuk 'mendapatkan' nasi lele itu, terlebih lagi karena saya memang memasang status tentang kelaparan saya. Bisa sih masuk akal, tapi ganjil. Waktu itu kontak BBM saya hanya segelintir orang saja, dan posisi mereka jauh dari saya. Dengan kata lain, tidak mungkin mereka se-peduli itu. Nasi itu benar-benar menjadi misteri yang tidak terpecahkan.

Suatu hari, saya bercerita kepada seseorang tentang itu. Dia bilang, mungkin nasi dari pocong.

Siapapun pocong itu, terimakasih.